Membelenggu Diri



“Kalau mau tampil professional, fasilitas ini dan perlengkapannya harus di-upgrade, supaya standar. Kalau tidak ada, ya ecek-ecek namanya. Dan jangan pernah menuntut hasil bagus kalau ecek-ecek”.  Hingga saat ini, tidak ada yang dihasilkan, kecuali silang pendapat, sesuatu yang ecek-ecek.

Fitrahnya, setiap kita tumbuh dan berkembang. Artinya kita semakin mampu menyelesaikan beban yang lebih berat. Kemampuan itu sendiri hadir karena kombinasi dua hal : kualitas kita (kompetensi + karakter) dan alat bantu. Semakin baik alat bantunya (kapal ferry), semakin cepat kita menempuh jarak Batam – Tj Pinang.  Namun bila hanya ada kapal pompong, dan kita enggan menggunakannya, maka kita tidak akan pernah bisa sampai diseberang.

Sebagian kita terbelengu oleh alat bantu. Kita terbuai dengan kenyamanan yang ditawarkan, terbiasa mengandalkan kekuatannya dan tak mampu melepaskan diri darinya. Sedemikian kuat kita terbelengu sehingga tanpanya, seolah kita hanyalah sesosok tubuh tanpa ruh. Kita mengebiri potensi kita, mematikan karakter petarung kita.

Kita kemudian berfokus hanya pada masalah dan mengabaikan peluang , yaitu  bahwa sebelumnya, dalam kondisi dan parameter yang berbeda, kita pernah menyelesaikan masalah yang sama besar dengan alat bantu yang lebih terbatas.

Membelengu diri adalah kesalahan. Tidak saja kita tidak menghasilkan apa-apa, namun tanpa sadar membunuh kapasitas dan kompetensi kita dengan argumen-argumen indah  atas nama profesionalisme, standar umum, trend, gengsi dan kedudukan, harga diri, kebiasaan.

Contoh diatas juga menjelaskan, bahwa berfokus pada diri sendiri, mengesampingkan alat bantu untuk sementara, mampu menghasilkan sesuatu. Yang menarik adalah, pilihan itu benar-benar ada ditangan kita.

0
www.scriptsell.net